Pada awalnya di Aceh telah banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil,
tersebar di seluruh daerah Aceh pada masa lalu. Di Aceh Besar sekrang, berdiri
Kerajaan Indra Patra dan Indra Purba, di Pidie Kerajaan Pedir, di Aceh Tengah
Kerajaan Lingga (Linge) dan kerajaan-kerajaran kecil Daya di Lamno, Kerajaan
Teunom di Teunom, Kerajaan Trumon di Trumon serta kerajaan-kerajaan kecil
lainya daerah Singkil dan Aceh Tenggara.
Dipenghujung abad ke-15 ekspaansi bangsa barat sangat
mendominasi dan mereka beramai-ramai ingi menjajah dan menguasai timur,
terutama penjajah barat Kristen, untuk menguasai timur yang Islam yang didorong nafsu ingin menguasai ekonomi
dan mencari keuntungan besar, bangsa Eropa berlomba-lomba pergi ke timur, terlebih lagi
setelah colombus menemukan Amerika dan Vaco Da Gama menginjakan kaki di daratan
India.[1] Diantara
bangsa Eropa yang sangat haus tanah jajahan adalah Portugis. Setelah mereka menduduki Goa di India,
mereka melarikan mata penjajahanya pada kerajaan-kerajaan kecil di pantai Utara
Sumatra, seperti Kerajaan Jaya, Aceh Darussalam, kerajaan Pidier, Pase, Tamiang dan
Aron. Untuk mencapai nafsu serakah, Portugis mengatur siasat/strategis untuk
menyerang dari Negara Malaka terlebih dahulu, dari sana Portugis mengirim
kaki tangannya ke daerah pesisir pantai utara Sumatra, gunanya agar dapat
menghasut masyarakat dari negeri-negeri yang akan diincar agar terjadi
kekacauan dan selisih faham diantara mereka, hingga pada akhirnya dintara
mereka akan terjadi peperangan saudara. Maka disinilah Portugis akan muncul
sebagai juru damai. Apabila sudah berhasil menjadi juru damai, maka Portugis
akan mudah menjejakan kakinya di dalam negeri tersebut. Dengan sendirinya
Portugis akan dengan senang hati membantu, padahal tujuan sebenarnya adalah
melakukan itenvensi.[2]
Apabila taktik adu domba masyarakat tidak berhasil, maka
Portugis langsung melakukan agresi, yaitu melakukan
kekerasan dengan penyerangan militer dan menduduki daerah yang diinginkannya,
serta memaksa para raja yang telah menyerah untuk segera menanda tangani kotrak
dagang dengan monopoli kepada masyarakat. Di akhir abad ke-15 dan di awal abad
ke-16, Portugis telah berhasil memaksakan kehendaknya yakni penjajahanya kepada
para raja di pulau Kampai (Aru) Pase, Pidier dan Jaya. Dalam wilayah
kerjaan-kerjaan kecil tersebut Portugis mendirikan kantor dagang dan
menempatkan pasukan tentaranya.[3] Melihat
dan mengetahui peristiwa tersebut, panglima perang Kerajaan Islam Aceh, Ali Mughayat Syah memohon kepada ayahnya untuk meletakan jabatan
serta menyerahkan jabatan negara kepadanya pada tanggal 12 Dzulqaidah
916 H (1511 M) Ali Mughayat Syah dilantik (dinobatkan) menjadi sultan Kerajaan Islam
Aceh dengan gelar Sulthan Alaiddin Ali Mughayati Syah. Setelah resmi dinobatkan
menjadi sultan, beliau bertekad untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan
pantai Sumatra mulai dari pulau Kampai (Aru) sampai ke Jaya.
Begitu Ali Mughayati Syah dinobatkan menjadi sultan,
beliau langsung memproklamasikan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam dengan wilayahnya yang meliputi
Pancu sampai dengan Aru di pantai Utara dan dari Jaya sampai Barus di pantai
Barat Sumatera dengan Ibu kotanya Banda Aceh Darussalam. Guna terealisasi hasil
yang maksimal, Ali Mughayat Syah segera mengambil tindakan yang tegas dan
cepat, hal tersebut mempunyai tujuan yang baik, namun ditanggapi negatif oleh
para raja yang lain yang ada di wilayah lain seperti Kerajaan Jaya, Pidier,
Pase dan Aru. Sewaktu Ali menyampaikan niatnya untuk menyerang kerajaan Jaya,
ayahnya yang sudah tua Sultan Syamsu Syah melarangnya, karena masih ada
hubungan saudara dan mereka adalah muslim. Tetapi Ali Mughayat Syah telah bulat
tekadnya, karena Portugis semakin kuat kedudukanya di Jaya, akhirnya
serangan mendadak dilakukan dalam waktu singkat, pasukan Protugis dan semua
kaki tanganya di Jaya habis dihancurkan, dan Raja Jaya berikut Protugis lari ke
Pidie. Di pidie pun mereka dikejar oleh tentara Ali Mughyat Syah, pasukan
Portugis di Pidie pun akhirnya dapat dihancurkan oleh tentara Ali mughyat Syah.
Dari pidie pasukan Portugis bersama dengan Raja Jaya dan Raja Pidie melarikan
diri ke Samudra Pase.
Pasukan Aceh (Ali mughayat Syah) mengejar mereka ke Pase, di
Pase inilah Portugis mengalami kehancuran fatal, karena sebagian
besar tentaranya terkubur di Pase. Akhirnya pasukan Portugis melarikan diri ke
Malaka. Setelah selesai pengusiran
Portugis, Ali Mughayat Syah kembali ke ibu kota Kerajaan Banda Aceh
Darussalam. Beliau mengangkat adiknya Lakseumana Raja Ibrahim menjadi Raja Muda
untuk wilayah Timur, yaitu Pase dan Aru.
Lakseumana Raja Ibrahim syahid dalam pertempuran di Teluk
Aru, dalam perang laut Armada Aceh dengan Armada Portugis. Peristiwa tersebut terjadi pada
tanggal 21 Muharram 930 H (30 November 1522 M). setelah syhid,
Lakseumana Ibrahim digantikan oleh Lakseumana Malik Uzir, beliau adalah putra
Sultan Salathan Meureuhom Jaya, yaitu ipar dari Sultan Ali Mughayat Syah sendiri. Lakseumana Malik Uzir syahid pada
bulan Jumadil Awal Tahun 933H (1526 M) Sesuai dari catatan sejarah, dari
berbagai pertempuran laut, pasukan Aceh telah berhasil memporak-porandakan
armada laut Portugis, dengan banyak yang berguguran para perwira Portugis
diantranya tercatat, Lakseumana Joige De Baruto, gugur dalam pertempuran pada
bulan Mei tahun 927 H (1521 M), Simon De Souza, gugur dalam pertempuran pada
tahun 934 (1528 M) setelah Lakseumana Malik Uzir syahid, sultan melantik putra
bungsunya yang bernama Malik Abdul Qahhar, menjadi panglima perang untuk
wilayah Timur dan merangkap sebagai Raja Muda di Aru.
Sultan Ali Mugahayat Syah mangkat pada tanggal 12 Dzullhijjah
tahun 936 H (7 Agustus 1530 M), setelah beliau berhasil menyelesaikan program
kerjanya yang utama, sebagai berikut:
1.
Berhasil mengusir
Portugis dari seluruh daratan dan kepulauan Aceh;
2.
Berhasil meletakan
pondasi/dasar yang kuat bagi Kerajaan Aceh darussalam;
3.
Berhasil menciptakan
bendera kerajaan Aceh Darussalam yaitu Alam Dzulfiqkan
(bendera Cap Pedang), yang berwarna dasar merah, bulan bintang dan Pedang
berwarna putih.
Perjalanan sejarah Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa-kemasa keemasan
sejak Ali Mughayat Syah sampai pada masa ratu Tajul Alam Safiatuddin
(masa gemilang) sejak tahun 916-1050 H (1511-1675 M) sedangkan masa-masa
kemunduran kerajaan Aceh Darussalam adalah sejak Pemerintahan Ratu Nurul Alam
Naqiatuddin sampai pada Pemerintahan Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mulai Tahun
1086-1290 H (1678-1903 M). Adapun masa puncak kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam adalah dimasa
pemerintahan:
a.
Sulthan Ali Mughayat
Syah;
b.
Sultan Iskandar Muda;
c.
Ratu Tajul Alam
Safiatuddin.
Diantra mereka bertiga
yang menjadi patokan dan buah bibir dari masa kemasa adalah Sultan iskandar
Muda.[4]
[1] Berutu, Ali G. 2019. “ACEH DAN SYARIAT ISLAM.” OSF Preprints. December 14. doi:10.31219/osf.io/q5b8n. https://osf.io/q5b8n
[2] Berutu, Ali Geno. "Penerapan syariat Islam Aceh dalam lintas sejarah." Istinbath: Jurnal Hukum 13, no. 2 (2016): 163-187. https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/istinbath/article/view/290
[3] Berutu, Ali Geno. "Qanun Aceh No 14 Tahun 2003 Tentang Khalwat Dalam Pandangan Fik {ih dan KUHP." Muslim Heritage 2, no. 1 (2017): 87-106. https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/muslimheritage/article/view/1047
[4] Berutu, Ali Geno. Formalisasi Syariat Islam Aceh Dalam Tatanan Politik Nasional. Pena Persada, 2020.








0 comments:
Posting Komentar