Sabtu, 07 Januari 2023

Aceh Pada Zaman Pemerintah Kerajaan



Pada awalnya di Aceh telah banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil, tersebar di seluruh daerah Aceh pada masa lalu. Di Aceh Besar sekrang, berdiri Kerajaan Indra Patra dan Indra Purba, di Pidie Kerajaan Pedir, di Aceh Tengah Kerajaan Lingga (Linge) dan kerajaan-kerajaran kecil Daya di Lamno, Kerajaan Teunom di Teunom, Kerajaan Trumon di Trumon serta kerajaan-kerajaan kecil lainya daerah Singkil dan Aceh Tenggara.

Dipenghujung abad ke-15 ekspaansi bangsa barat sangat mendominasi dan mereka beramai-ramai ingi menjajah dan menguasai timur, terutama penjajah barat Kristen, untuk menguasai timur yang Islam yang didorong nafsu ingin menguasai ekonomi dan mencari keuntungan besar, bangsa Eropa berlomba-lomba pergi ke timur, terlebih lagi setelah colombus menemukan Amerika dan Vaco Da Gama menginjakan kaki di daratan India.[1] Diantara bangsa Eropa yang sangat haus tanah jajahan adalah Portugis. Setelah mereka menduduki Goa di India, mereka melarikan mata penjajahanya pada kerajaan-kerajaan kecil di pantai Utara Sumatra, seperti Kerajaan Jaya, Aceh Darussalam, kerajaan Pidier, Pase, Tamiang dan Aron. Untuk mencapai nafsu serakah, Portugis mengatur siasat/strategis untuk menyerang dari Negara Malaka terlebih dahulu, dari sana Portugis mengirim kaki tangannya ke daerah pesisir pantai utara Sumatra, gunanya agar dapat menghasut masyarakat dari negeri-negeri yang akan diincar agar terjadi kekacauan dan selisih faham diantara mereka, hingga pada akhirnya dintara mereka akan terjadi peperangan saudara. Maka disinilah Portugis akan muncul sebagai juru damai. Apabila sudah berhasil menjadi juru damai, maka Portugis akan mudah menjejakan kakinya di dalam negeri tersebut. Dengan sendirinya Portugis akan dengan senang hati membantu, padahal tujuan sebenarnya adalah melakukan itenvensi.[2]

Apabila taktik adu domba masyarakat tidak berhasil, maka Portugis langsung melakukan agresi, yaitu melakukan kekerasan dengan penyerangan militer dan menduduki daerah yang diinginkannya, serta memaksa para raja yang telah menyerah untuk segera menanda tangani kotrak dagang dengan monopoli kepada masyarakat. Di akhir abad ke-15 dan di awal abad ke-16, Portugis telah berhasil memaksakan kehendaknya yakni penjajahanya kepada para raja di pulau Kampai (Aru) Pase, Pidier dan Jaya. Dalam wilayah kerjaan-kerjaan kecil tersebut Portugis mendirikan kantor dagang dan menempatkan pasukan tentaranya.[3] Melihat dan mengetahui peristiwa tersebut, panglima perang Kerajaan Islam Aceh, Ali Mughayat Syah memohon kepada ayahnya untuk meletakan jabatan serta menyerahkan jabatan negara kepadanya pada tanggal 12 Dzulqaidah 916 H (1511 M) Ali Mughayat Syah dilantik (dinobatkan) menjadi sultan Kerajaan Islam Aceh dengan gelar Sulthan Alaiddin Ali Mughayati Syah. Setelah resmi dinobatkan menjadi sultan, beliau bertekad untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan pantai Sumatra mulai dari pulau Kampai (Aru) sampai ke Jaya.

Begitu Ali Mughayati Syah dinobatkan menjadi sultan, beliau langsung memproklamasikan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam dengan wilayahnya yang meliputi Pancu sampai dengan Aru di pantai Utara dan dari Jaya sampai Barus di pantai Barat Sumatera dengan Ibu kotanya Banda Aceh Darussalam. Guna terealisasi hasil yang maksimal, Ali Mughayat Syah segera mengambil tindakan yang tegas dan cepat, hal tersebut mempunyai tujuan yang baik, namun ditanggapi negatif oleh para raja yang lain yang ada di wilayah lain seperti Kerajaan Jaya, Pidier, Pase dan Aru. Sewaktu Ali menyampaikan niatnya untuk menyerang kerajaan Jaya, ayahnya yang sudah tua Sultan Syamsu Syah melarangnya, karena masih ada hubungan saudara dan mereka adalah muslim. Tetapi Ali Mughayat Syah telah bulat tekadnya, karena Portugis semakin kuat kedudukanya di Jaya, akhirnya serangan mendadak dilakukan dalam waktu singkat, pasukan Protugis dan semua kaki tanganya di Jaya habis dihancurkan, dan Raja Jaya berikut Protugis lari ke Pidie. Di pidie pun mereka dikejar oleh tentara Ali Mughyat Syah, pasukan Portugis di Pidie pun akhirnya dapat dihancurkan oleh tentara Ali mughyat Syah. Dari pidie pasukan Portugis bersama dengan Raja Jaya dan Raja Pidie melarikan diri ke Samudra Pase.

Pasukan Aceh (Ali mughayat Syah) mengejar mereka ke Pase, di Pase inilah Portugis mengalami kehancuran fatal, karena sebagian besar tentaranya terkubur di Pase. Akhirnya pasukan Portugis melarikan diri ke Malaka. Setelah selesai pengusiran Portugis, Ali Mughayat Syah kembali ke ibu kota Kerajaan Banda Aceh Darussalam. Beliau mengangkat adiknya Lakseumana Raja Ibrahim menjadi Raja Muda untuk wilayah Timur, yaitu Pase dan Aru.

Lakseumana Raja Ibrahim syahid dalam pertempuran di Teluk Aru, dalam perang laut Armada Aceh dengan Armada Portugis. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 21 Muharram 930 H (30 November 1522 M). setelah syhid, Lakseumana Ibrahim digantikan oleh Lakseumana Malik Uzir, beliau adalah putra Sultan Salathan Meureuhom Jaya, yaitu ipar dari Sultan Ali Mughayat Syah sendiri. Lakseumana Malik Uzir syahid pada bulan Jumadil Awal Tahun 933H (1526 M) Sesuai dari catatan sejarah, dari berbagai pertempuran laut, pasukan Aceh telah berhasil memporak-porandakan armada laut Portugis, dengan banyak yang berguguran para perwira Portugis diantranya tercatat, Lakseumana Joige De Baruto, gugur dalam pertempuran pada bulan Mei tahun 927 H (1521 M), Simon De Souza, gugur dalam pertempuran pada tahun 934 (1528 M) setelah Lakseumana Malik Uzir syahid, sultan melantik putra bungsunya yang bernama Malik Abdul Qahhar, menjadi panglima perang untuk wilayah Timur dan merangkap sebagai Raja Muda di Aru.

Sultan Ali Mugahayat Syah mangkat pada tanggal 12 Dzullhijjah tahun 936 H (7 Agustus 1530 M), setelah beliau berhasil menyelesaikan program kerjanya yang utama, sebagai berikut:

1.     Berhasil mengusir Portugis dari seluruh daratan dan kepulauan Aceh;

2.     Berhasil meletakan pondasi/dasar yang kuat bagi Kerajaan Aceh darussalam;

3.     Berhasil menciptakan bendera kerajaan Aceh Darussalam yaitu Alam Dzulfiqkan (bendera Cap Pedang), yang berwarna dasar merah, bulan bintang dan Pedang berwarna putih.

Perjalanan sejarah Kerajaan Aceh Darussalam mengalami masa-kemasa keemasan sejak Ali Mughayat Syah sampai pada masa ratu Tajul Alam Safiatuddin (masa gemilang) sejak tahun 916-1050 H (1511-1675 M) sedangkan masa-masa kemunduran kerajaan Aceh Darussalam adalah sejak Pemerintahan Ratu Nurul Alam Naqiatuddin sampai pada Pemerintahan Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, mulai Tahun 1086-1290 H (1678-1903 M). Adapun masa puncak kejayaan  Kerajaan Aceh Darussalam adalah dimasa pemerintahan:

a.     Sulthan Ali Mughayat Syah;

b.     Sultan Iskandar Muda;

c.     Ratu Tajul Alam Safiatuddin.

Diantra mereka bertiga yang menjadi patokan dan buah bibir dari masa kemasa adalah Sultan iskandar Muda.[4]



[1] Berutu, Ali G. 2019. “ACEH DAN SYARIAT ISLAM.” OSF Preprints. December 14. doi:10.31219/osf.io/q5b8n. https://osf.io/q5b8n

[2] Berutu, Ali Geno. "Penerapan syariat Islam Aceh dalam lintas sejarah." Istinbath: Jurnal Hukum 13, no. 2 (2016): 163-187. https://e-journal.metrouniv.ac.id/index.php/istinbath/article/view/290

[3] Berutu, Ali Geno. "Qanun Aceh No 14 Tahun 2003 Tentang Khalwat Dalam Pandangan Fik {ih dan KUHP." Muslim Heritage 2, no. 1 (2017): 87-106. https://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/muslimheritage/article/view/1047

[4] Berutu, Ali Geno. Formalisasi Syariat Islam Aceh Dalam Tatanan Politik Nasional. Pena Persada, 2020.

BACA JUGA

0 comments:

Posting Komentar