Apa nama gerakan pembaharuan yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab?
Mengapa Muhammad bin Abdul Wahab melakukan pembaharuan?
Bagaimana latar belakang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab dalam pembaharuan di bidang tauhid?
Apa saja pemikiran Muhammad Abduh?
A. Muhammad ibn Abdul Wahab
Muhammad
ibn Abdul Wahab dilahirkan di dusun Uyainah (Nedj) Daerah Arabia tahun 1115 H atau 1703 M.
Ayahnya bernama Abdul Wahhab, beliau adalah seorang Qodhi di kota Nejd, pada
masa pemerintahan Abdullah ibn Mu’ammar, dan mengajar fiqh dan hadis di masjid
kota tersebut. Kakeknya, Sulaiman, adalah seorang mufti di Nejd. Muhammad ibn
Abdul Wahhab belajar pada kakek dan ayahnya, ia memperoleh pengetahuan di bidang
fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Kemudian
ia merantau ke Hijaz. Di negeri ini Muhammad ibn Abdul Wahab memperoleh pengetahuan
agama dari ulama-ulama Mekah dan Madinah, ia merantau ke Basrah dan tinggal
dikota ini selama empat tahun. Selanjutnya ia pindah ke Bagdad, di sana ia memasuki kehidupan perkawinan
dengan seorang wanita kaya. Lima tahun kemudian setelah istrinya wafat, ia
pindah ke Kurdistan, dan selanjutnya ke Hamdan dan Isfahan. Di kota Isfahan ia
berhasil mempelajari filsafat dan tasawuf setelah berrantau, akhirnya ia kembali
ke tempat kelahiranya di Nedj.
Setelah
beberapa tahun dalam perlawatanya, ia kemudian kembali ke negeri kelahirannya.
Selama beberapa bulan ia merenung dan berorientasi, ia kemudian mengajarkan
paham-pahamnya, terutama dibidang ketahuidan. Dari sinilah
Muhammad
ibn Abdul Wahhab memperoleh pengikut yang banyak, bahkan banyak di
ataranya berasal dari luar Ujainah. Meskipun demikian, Muhammad ibn Abdul Wahhab
memperoleh banyak tantangan, termasuk tantangan dari keluargannya sendiri.
Karena ajaran-ajarannya menimbulkan
keributan di negerinya, ia diusir oleh keluarga setempat. Akhirnya, ia
berpindah ke Dar’iah, sebuah dusun tempat tinggal Muhammad ibn Sa’ud yang telah
menerima ajaran wahabi. Dari dukungan yang diberikan Muhammad ibn Abdul Sa’ud
dan putranya Abdul Al-aziz di Nedj, paham-paham Muhammad ibn Abdul Wahhab
semakin tersiar dan gerakannya bertambah kuat. Muhammad ibn Abdul Wahhab secara
aktif berusaha mewujudkan pemikiranya. Akhirnya pada tahun 1773 M. Ia bersama
pengikut-pengikutnya dapat menduduki Riyadh. Pada tahun 1787, Muhammad ibn
Abdul Wahhab wafat, namun ajaran-ajarannya tetap hidup dengan mengambil bentuk
aliran yang dikenal dengan nama Wahhabiah, nama ini bukanlah merupakan nama
yang diberikan Muhammad ibn Abdul Wahhab, melainkan oleh golongan lain yang
menjadi lawan-lawannya dan orang-orang eropa,di karenakan nama pendirinya
Muhammad ibn Abdul Wahhab. Para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri
menamakan dirinya sebagai kaum “muhammadun”, yaitu orang-orang yang berusaha
mengesakan Tuhan semurni-murninnya.
B. Gerakan Wahhabisme
Hasil
sepak terjang Muhammad Ibn Abdul Wahhab ke beberapa wilayah kekuasaan islam
sebagaimana disebutkan sebelumnya, tampaknya merupakan indikator mengapa ia
mendirikan suatu gerakan, yang selanjutnya dikenal dengan “Gerakan Wahhabi”.
Pemikiran
yang di cetuskan Muhammad Abdul Wahhab adalah untuk memperbaiki kedudukan umat
islam, gerakan ini bukan timbul sebagai reaksi terhadap susana politik seperti
yang terdapat di kerajaan Utsmani, tetapi sebagai reksi terhadap paham tauhid
yang terdapat di kalang umat islam pada waktu itu, pada waktu itu paham tauhid
mereka yang menurut Muhammad Abdul Wahhab di rusak oleh ajaran tarekat yang
memang tesebar luas di dunia islam.
Di setiap negeri islam yang dikunjunginya ia melihat berbagai macam tradisi, kepercayaan, dan adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk ritual-keagamaan. Ia juga menyaksikan betapa besarnya pengaruh ahli-ahli terkait dimasa hidupnya sehingga kuburan-kuburan syekh tarekat bertebaran di setiap kota, bahkan kampung-kampung, kuburan wali atau syech tersebut ramai dikunjungi oleh orang-orang. Mereka pergi ke kuburan untuk naik haji dan meminta pertolongan dari syech atau wali yang di kubur di dalamnya, mereka meminta tolong untuk menyelesaikan problematika hidup mereka sehari-hari. Ada yang memints diberikan anak, ada yang meminta kekayaan, ada pula yang meminta untuk mendapatkan jodoh, dan lain-lain.
Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan
doa tidak lagi langsung di tunjukkan kepada tuhan, tetapi melalui pertolongan
para syekh atau wali tarekat yang dipandang sebagai orang tua yang dapat
mendekati tuhan untuk memperoleh rahmat-Nya. Menurut keyakinan orang-orang yang
berziarah ke kuburan para syeikh dan wali tarekat, tuhan tidak bisa didekati
kecuali melalui perantara.
Tetapi
dari kacamata Muhammad Abdul Wahhab kemurnian tauhid sudah dirusak, bukan hanya
itu, pada waktu itu faham animisme juga masih mempengaruhi keyakinan umat
Islam. Di satu tempat, dia melihat orang berziarah ke pohon kurma yang besar,
pohon itu diyakini memiliki kekuatan ghaib. Keyakinan serupa ini, menurut
Muhammad Abdul Wahhab merupakan syirik, dan syirik adalah dosa terbesar dalam
islam, dosa yang tidak dapat di ampuni oleh tuhan.
Muhammad Ibn Abdul Wahhab dengan
gerakannya untuk memurnikan ajaran islam, khususnya dalam bidang tauhid sebagai
ajaran pokok islam, tidak ingin mengubah ajaran islam dengan penafsiran baru
terhadap wahyu yang sudah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, melainkan
ajarannya membawa misi memberantas unsur-unsur yang di lakukan di luar ajaran
islam, seperti bid’ah, khufarat, dan takhayul yang masuk ke dalam ajaran islam.
Dengan demikian , ia bermaksud mengajak umat islam kembali kepada ajaran islam
yang murni. Yang dimaksud dengan ajaran islam murni itu ialah sebagaimana yang
dianut dan di praktekkan di zaman nabi, sahabat serta tabiin, yaitu sampai abad
ke-3 hijriah.
Muhammad Ibn Abdul Wahab adalah tokoh
dan pendiri gerakan wahhabi yang sangat terkemuka di Saudia Arabia, dia
merupakan tokoh islam yang sangat berpengaruh dari pengalaman keagamaan Ibnu
Taimiyah pada khusunya, dan madzhab Hambali pada umunnya. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika dalam gerakannya, ia lebih banyak memfokuskan diri
kepada pemurnian akidah.
Meskipun demikian, pemikiran
pembaharuan Muhammad ibn Abdul Wahhab yang banyak dipengaruhi oleh Ibnu Taimiyah
tentang ketauhidan, tetapi tidak juga di tafsirkan bahwa Ibn Taimiyah identik
dengan kaum wahabi sebab seperti yang dinyatakan oleh Muhammad Amin “walaupun
dipengaruhi oleh pikiran-pikiran reformatif ibn taimiyah, gerakan wahabi tidak
sepenuhnya merupakan daplikat pikiran-pikiran Ibnu Taimiyah” Muhammad Amin
menyatakan gerakan wahabi bukanlah gerakan yang taklid kepada Ibnu Taimiyah dan
mengingkari pikiran-pikiran keagamaan sendiri sebagaimana yang dituduhkan oleh
sebagian orang, termasuk Husya Hilmi isikh dalam bukunnya Advice for the
Wahabbi.
Gerakan wahabi yang dipelopori oleh
Muhammad Ibn Abdul Wahab itu muncul tampaknya di karena diguncang oleh
kelemahan-kelemahan islam ditempat dia di besarkan dan tempat-tempat lain yang
di kunjunginya. Seperti pemujaan terhadap kuburan para syaikh atau wali, faham
animisme dan lain-lain. Oleh karena itu, Muhammad ibn Abdul Wahhab sangat
mengecam kepercayaan umat islam terhadap kekuatan yang dimiliki oleh orang-orang
yang dianggap keramat dalam rangka perbaikan moral dan spiritual. Di lain pihak, ia juga merasa kesal terhadap
para ulama yang telah lama membiarkan praktek-praktek semacam itu. Dia juga
mengecam orang yang mau menerima secara taklid buta pemikiran pihak-pihak
tertentu dalam masalah keagamaan. Untuk itu, ia juga menyuruh umat islam agar
menyelaraskan nalar dan hati nurani mereka dengan Al Quran dan Sunnah.
Muhammad
ibn Abdul Wahab memperoleh perlindungan dari pimpinan Nedj, yaitu Muhammad ibn
Saud dan semangat pembaharuannya menjadi kekuatan pendorong ekspansi politik
keluarga Saud. Pada akhir abad ke-18, seluruh Nedj dapat ditakhlukannya.
Untuk
mengembalikan kemurnian tauhid, kuburan-kuburan yang banyak di kunjungi dengan
mencari syafaat, mereka usahakan untuk menghapusnya. Pada tahun 1802, mereka
menyerang Karbala, karena di kota ini terdapat kuburan Al-Husain, yang
merupakan kiblat bagi golongan kaum Syi’ah. Beberapa tahun kemudian mereka
serang Madinah. Kubbah yang ada di atas kuburan-kuburan disana mereka
hancurkan, hiasan yang ada di kuburan Nabi di rusak, dari Madinah dilanjutkan
penyerangan ke Makah, mereka menghancurkan Kiswah sutra yang menutup Ka’bah,
mereka anggap semua itu adalah bid’ah.
Dari penjelasan terdahulu terlihat bahwa gerakan wahabi, selain sebagai gerakan pemurnian disebut pula dengan gerakan pembaharuan.
C. Ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab
Bila
dilihat dari karya ilmiah yang ditulis, Muhammad ibn Abd al-wahab dapat
kategorikan sebagai sosok ulama yang produktif. Karya-karya ilmiyahnya mencapai
puluhan jumlahnya. Antara lain tafsir surat Al-Fatihah, Mukhtasar Sahih al-Bukhori,
Mukhtasar Sirat Al-Nabawiyyah, kitab Al-Tauhid, Usul Al-iman, kitab Al-Khabair.
Tema dari karya-karya ilmiah Muhammad ibn Abdul Wahab ini tampaknya terfokus
pada misi pemurnian tauhid.
Ajaran tauhid memang merupakan ajaran
yang paling dasar dalam islam. Oleh karena itu, tidak diherankan jika Muhammad
ibn Abdul Wahab memusatkan perhatian pada masalah ini. Ia berpendapat bahwa:
1. Yang boleh dan harus disembah hanyalah tuhan,
dan orang-orang yang menyembah selain
tuhan telah menjadi musyrik, dan boleh dibunuh
2. Kebanyakan orang islam bukan lagi penganut paham
tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi kepada
tuhan, tetapi pada para syeikh atau wali dan dari kekuatan ghaib. Orang islam
demikian juga telah menjadi musyrik
3. Hanya Al-Qur’an dan Hadis lah yang merupakan
sumber asl dari ajaran ism. Pendapat para ulama tidak merupakan sumber
4. Taqlid pada ulama tidak di benarkan
5. Pintu ijtihad terbuka dan tidak tertutup
6. Menyebut nama Nabi, Syech, atau Malaikat
sebagai pengantar dalam doa juga merupakan syirik
7. Tidak percaya pada qodho dan qodhar Tuhan juga
merupakan kekufuran
8. Menafsirkan Al-Qur’an dengan takwil adalah
kufur
9. Meminta syafaat selain kepada tuhan adalah juga
syirik
10. Bernazar kepada selain tuhan juga syirik
11. Memperoleh pengetahuan selain dari Al-Quran, Hadis,
dan Qias (analogi) merupakan kekufuran.
Harun Nasution mengemukakan tiga pokok pikiran Muhammad Ibn Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pemikiran pembaharuan abad ke -19, yaitu (1) Hanya alquran dan hadislah yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran islam. Pendapat ulama tidak merupakan sumber; (2) taklid kepada ulama tidak dibenarkan; dan (3) pintu ijtihad tetap terbuka.
Setelah berdiri kokoh di Nedj, Gerakan Wahabi segera tersebar ke negara-negara lain, seperti India, Sudan, Libia, dan Indonesia. Di India, ajaran wahabi dibawa oleh Sayyid Ahmad. Yaitu setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1822 dan 1823. Di sini, ajaran wahabi mendapat pengikut-pengikut yang kemudian siap melakukan perang melawan kaum kafir dan non- Muslim.
Di
Indonesi faham wahabi dibawa oleh ama’ah haji yang datang ke Makkah mereka
menyebarkan ajaran itu setelah berkenalan dengan ajaran tauhid tersebt di
Makkah.
Ajaran
Muhammad ibn Abdul Wahhab di kokohkan lagi dengan dukungan kekuatan politik
yang di prakarsai oleh Muhammad ibn Sa’ud. Bersatunya agama dan politik
tersebut membuahkan kerajaan besar di Saudi Arabia sejak tahun 1744 yang masih
eksis hingga kini, tapi kerajaan itu mengalami pasang dan surut. Terutama ketika
di tindas oleh kekuatan Turki Usmani yang di wakili oleh gubernurnya di Mesir,
Muhammad Ali Pasya tahun 1818. Muhammad
Ali Pasya mengutus anaknya Ibrahim Pasya untuk meratakan dengan tanah pusat
kaum Wahabi tersebut yakni Dar’iyyah, walau dengan usaha susah payah dalam
jangka lama, karena medan peperangan yang sukar.
Tetapi
karena Keunggulan peralatan perang modern yang di punyai oleh Muhammad Ali, dan
taktik penggerogotan terhadap suku-suku Arab yang pro dengan ajaran Wahabi,
misi Muhammad Ali Pasya dalam melumpuhkan gerakan wahabi dapat dikatakan
berhasil.
Muhammad
ibn Abdul Wahab sendiri wafat pada tahun 1792 di Dar’iyyah, sebelum wafat dia
sempat menyaksikan kesuksesan dakwah yang dilakukan oleh para pengikutnya.
Dari informasi sejarah ini, dapat
dikemukakan bahwa telah terjadi pergeseran sasaran yang ingin dicapai oleh
gerakan ini. Semula gerakan ini berusaha memurnikan tauhid, tetapi ternyata
dalam perkembangan berikutnya telah jauh memasuki bidang politik. Agaknya
keadaanlah yang memaksa gerakan ini berbuat demikian karena setiap agama yang
dianut oleh suatu umat tidak terlepas sama sekali dari kondisi sosial
masyarakat. Ajaran wahabi masih dapat dirasakan sampai sekarang, terlebih di
wilayah Timur Tengah, di Indonesia sendiri walau tidak tampak besar, tetapi
kami kira juga ada, dengan bukti ada kaum muslim yang membid’ah kan muslim
lain, ada juga yang mengharamkan ziarah kubur, dan lain-lain.
A. Kesimpulan
Muhammad ibn Abdul Wahab dilahirkan di dusun
ujainah (Nedj). Daerah saudi arabia di
daerah timur. Dan ayahnya sebagai qodhi, ia memperoleh pengetahuan dibidang
fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Setelah beberapa tahun dalam perjalanannya, ia kemudian kembali ke
negeri kelahirannya. Selama beberapa bulan ia merenung dan berorientasi, ia
kemudian mengajarkan paham-pahamnya, terutama dibidang ketahuidan.
Muhammad Ibn Abdul Wahab, merupakan pendiri gerakan wahabi yang sangat terkemuka
di saudia arabia, merupakan tokoh islam yang sangat berpengaruh oleh pengalaman
keagamaan Ibnu Taimiyah pada khusunya, dan madzhab Hanbali pada umunnya. Oleh
karena itu, tidak mengherankan jika dalam gerakannya, ia lebih banyak
memfokuskan diri kepada pemurnian akidah.
Muhammad ibn Abdul Wahab berpendapat bahwa (1)
yang boleh dan harus disembah hanyalah tuhan, dan orang-orang yang
menyembah selain tuhan telah menjadi
musyrik, dan boleh dibunuh; (2) kebanyakan orang islam bukan lagi penganut
paham tauhid yang sebenarnya karenma mereka meminta pertolongan bukan lagi
kepada tuhan, tetapi pada para syeikh atau wali dan dari kekuatan ghaib. Orang
islam demikian juga telah menjadi musyrik; (3) menyebut nama nabi,syaikh atau
malaikat sebagai perantara dalam doa juga merupakan syirik; (4) meminta syafaat
selain kepada tuhan adalah juga syirik;(5) bernazar kepada selain tuhan juga
syirik; (6) memperoleh pengetahuan selain dari al-quran,hadis,dan kias
(analogi) merupakan kekufuran; (7) tidak percaya kepada qodo dan qodar tuhan
juga merupakan kekufuran; (8) penafsiran alquran dengan takwil (interpretasi
bebas) adalah kufur.
Muhammad ibn Abdul Wahab sendiri wafat pada tahun 1792 di Dar’iyyah, sebelum wafat dia sempat menyaksikan kesuksesan dakwah yang dilakukan oleh para pengikutnya. Gerakan wahabinya sampai sekarang masih terlihat di beberapa wilayah
Daftar Pustaka
A.Hanafi, Teologi islam, Jakarta:
Pustaka Al Husna
Nasution Harun, Pembaharuan dalam islam,
Jakarta : Bulan Bintang, 1975
Amin Muhammad, Ijtihad Ibn Taimiyah,
Jakarta : INIS, 1991
Mufrodi Ali, ISLAM KAWASAN DI KEBUDAYAAN
ARAB, Jakarta: Logos, 1997








0 comments:
Posting Komentar