Sabtu, 31 Desember 2022

MAKALAH GAGASAN PEMBAHARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM INDONESIA (M.HASYIM ASY’ARI DAN H.AHMAD DAHLAN)


A.    Pendahuluan

Ketokohan KH. Hasyim Asy’ari sering kali diceburkan dalm persoalan sosial politik. Hal ini dapt dipahami bahwa sebagian dari sejarah kehidupan KH. Hasyim Asy’ari juga dihabiskan untuk merebut kedaulatan bangsa Indonesia melawan hegemoni kolonial Belanda dan Jepang. Lebih-lebih organisasi yang didirrikannya, Nahdatul Ulama (NU), pada masa itu cukup aktif melakukan usaha-usaha sosial politik.

 KH. Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh yang tidak banyak meninggalkan tulisan. Beliau lebih menampilkan sosoknya sebagai manusia amal dan praktisi dari pada filosof yang banyak melahirkan gagasan-gagasan tetapi sedikit amal, sekalipun demikian tidak berarti beliau tidak memiliki pemikiran atau gagasan. Selain itu, Amal Usaha Muhammadiyah merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Istilah pendidikan disini dipergunakan dalam konteks yang luas tdiak hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari generasi muda, dalam konteks ini termasuk dlam pengertian penddikan adalah kegiatan pengajian, tabligh da sejenisnya.

B.    Biografi KH. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. didesa Gedang Jombang. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, yang berasal dari Demak. Ibunya bernama Halimah, putri Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang yang terkenal mampu menarik santri-santri dari seluruh Jawa pada akhir abad ke-19. Sedang kakeknya, Kyai Sihab adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.[1]

Sebagaimana santri pada umumnya, KH. Hasyim Asy’ari senang belajar di pesantren sejak kecil. Dari ayahnya ia mendapat pelajaran dasar-dasar tauhid, fikih, tafsir dan hadist. Setelah berusia lima belas tahun, KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura, salah satunya pesantren Siwalan Surabaya.[2] Di pesantren Siwalan ia menetap dua tahun. Karena kecerdasannya, ia diambil menantu oleh Kyai Ya’kub pengasuh pesantren tersebut. setelah menikah ia dan istrinya menunaikan ibadah haji dan menetap disana selama tujuh bulan. KH. Hasyim Asy’ari harus kembali ke tanah air seorang diri karena istrinya meninggal setelah melahirkan anaknya yang bernama Abdullah.[3]

Pada tahun 1893 M, KH. Hasyim Asy’ari kembali ke Makkah dengan saudaranya, Anis, yang kemudian meninggal disana, pada kesempatan ini ia menetap di Makkah selama tujuh tahun dan mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh Syafi’iyah dan ilmu Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim.

Pada tahun 1926 M, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan partai Nahdatul Ulama (NU). Sejak didirikan sampai tahun 1947 M Rais ‘Am (ketua umum) dijabat oleh KH. Hasyim Asy’ari. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama  pada zaman pendudukan Jepang untuk wilayah Jawa dan Madura. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947 di Tebuireng, Jombag Jawa Timur. Hampir seluruh waktunya diabadikan untuk kepentingan agama dan pendidikan.[4]

C.    Pembaharuan Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari

1.     Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang pendidikan

Tepat pada tanggal 26 Rabi’ul Awal 120 H. Bertepatan 6 Februari 1906 M, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng. Oleh karena kegigihannya dan keihklasannya dlam menyosialisasikan ilmu pengetahuan, dalam beberpa tahun kemudian pesantren relatif ramai dan terkenal.

Pada tahun 1916-1934 Hasyim Asy’ari membuka sistem pengajaran berjenjang. Terdapat tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua diajarkan bahasa arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuna islam. Kurikulum madrasah pu mulain ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia, matematika dan ilmu bumi, dan pada tahun 1926 ditambah lagi dengan mata pelajaran bahasa Belanda dan sejarah.

Salah satu kary monumental KH. Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab adab al-‘alim wa al-muta’allum wa ma yataqaff al-mu’allimin fi maqamat ta’limih, sebagaimana umumnya kitab kuning, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih ditekankan pada masalah pendidikan etika.

2.     Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Sosial

Aktivitas K. H. Hasyim Asy’ari di bidang sosial lainnya adalah mendirikan organisasi Nahdatul Ulama, bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, seperti Syekh ‘Abd Al-Wahhab dan Syekh Bishri Syansuri. Mengenai orientasi pemahaman dan pemikiran keislaman, kiai Hasyim sangat dipengaruhi oleh salah seorang guru utamanya: Syekh Mahfuz At-Tarmisi yang banyak menganut tradisi Syekh Nawawi. Selama belajar di Mekkah, sebenarnya, ia pun mengenal ide-ide pembaharuan Muhammad Abduh. Tetapi ia cenderung tidak menyetujui pikiran-pikiran Abduh, terutama dalam hal kebebasan berpikir dan pengabaian Mazhab. Menurutnya kembali langsung ke Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melalui hasil-hasil Ijtihad para imam mazhab adalah tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits secara langsung, tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama besar dan imam mazhab, hanya akan menghasilkan pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam. Latar belakang orientasi pemahaman keislaman seperti inilah yang membuat kiai Hasyim menjadi salah seorang pendiri dan pemimpin utama Nadhatul Ulama. Tidak kurang dari 21 tahun ia menjadi Rais ‘Am, ketua umum Nadhatul Ulama (1926-1947).

KH Hasyim Asy’ari menganjurkan kepada para kiai dan guru-guru agama agar memiliki perhatian serius kepada masalah ekonomi untuk kemaslahatan; “kenapa tidak kalian dirikan saja satu badan usaha, yang setiap wilayah ada satu badan usaha yang mandiri.” Demikian pernyataan KH Hasyim Asy’ari ketika mendeklarasikan berdirinya Nahdlah at-Tujjar. Berangkat dari kesadaran itulah Nahdlah at-Tujjar didirikan, dengan satu badan usaha yang ketika itu disebut Syirkah al-Inan, yang kemudian hari ketika NU berdiri wadah ekonomi tersebut berganti nama dengan Syirkah al-Mu’awanah.

Ketika organisasi sosial keagamaan masyumi dijadikan partai politik pada 1945, Kiai Hasyim terpilih sebagai ketua umum. Setahun kemudian, 7 September 1947 (1367 H), K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari, yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat. Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia bukan saja tokoh utama agama, tetapi juga sebagai tokoh nasional.

Pada tahun 1930 dalam muktamar NU ke-3 kiai Hasyim selaku Rais Akbar menyampaikan pokok-pokok pikiran mengenai organisasi NU. Pokok-pokok pikiran inilah yang kemudian dikenal sebagai Qanun Asasi Jamiah NU (undang-undang dasar jamiah NU).[5]

D.    Biografi KH. Ahmad Dahlan

KH. Ahmad Dahlan secara biologis bukan keturunan Kraton (bangsawan) yang ningrat dengan status kasta dan memiliki hierarki sosial politik yang berbeda. KH. Ahmad Dahlan pada waktu kecilnya bernama Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti Aminah. Ayahnya adalah Khatib di Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Sementara ibunya adalah putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.[6]

Mengenai tahun kelahiran Ahmad Dahlan secara pasti banyak perbedaan pendapat, Junus Salam dalam bukunya Riwayat Hidup KH. Ahmad Dahlan : Amal dan Perjuangannya, hanya menyebut tahun 1868 M atau 1285 H. Sedangkan menurut Drs. Oman Fathurrahman ahli falak dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pemimpin Pusat Muhammadiyah, menyatakan bahwa Ahmad Dahlan lahir pada hari sabtu 24 Sya’ban tahun 1827 H bertepatan dengan tanggal 19 November 1870 M, dan wafat pada tanggal 23 Februari tahun 1923, dalam usia 55 tahun atau 54 tahun.[7]

 Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan Ahmad Dahlan tentang Universitas Islam. Ide-ide tentang reinterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khusus KH. Ahmad Dahlan saat itu.  Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun, pada masa ini ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU KH.Hasyim Asy’ari. Kemudian pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

E.    Pembaharuan pemikiran KH. Ahmad Dahlan

1.     Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam Bidang Sosial

Sebagai seorang organisator atau seorang yang senang akan berorganisasi, KH. Ahmad Dahlan bercita-cita mendirikan sebuah perkumpulan yang didalamnya juga dapat menyiarkan dakwah kepada umat muslim. Yang kemudian dengan bantuan para pemuda, murid-murid dan para sahabatnya beliau mendirikan sebuah perkumpulan atau persyarikatan yang bernama Muhammadiyah.

Adapun beberapa faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah :

a.     Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi.

b.     Umat Islam pada saat itu dilanda oleh arus formalism. Dimana umat islam hanya menjalankan ajaran tanpa menghayati da mengamalkan makna yang terkandung didalam ayat suci Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup.

 

Muhammadiyah merupakan terobosan nyata dari ide pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam meluaskan syi’ar agama Islam. Kemunculannya disambut hangat oleh masyarakat. Ini membuktikan bahwa cara kerja dari tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya itu sungguh luar biasa.

Periode tahun 1912-1923, merupakan peletakan dasar gerakan Muhammadiyah. Dalam periode ini, kepemimpinan Muhammadiyah langsung berada pada KH. Ahmad Dahlan. Perkembangan organisasi dalam Muhammadiyah terjadi bersamaan dengan perkembangan amal usaha Muhammadiyah. Amal usaha yang pertama adalah sekolahn dan pengajian, kemudian meluas meliputi bidang kesehatan dan kesejahteraan ekonomi.

2.     Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan

Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dilatar belakangi oleh beberapa faktor, diantaranya :

a.     Pendidikan bagi kaum pribumi sungguh dipandang sebelah mata oleh pemerintah kolonial Belanda.

b.     Abainya perhatian negara kolonial terhadap pendidikan kaum pribumi hingga paruh pertama abad ke 19. Meski demikian sekolah-sekolah islam tradisional mampu berperan sebagai institusi-institusi pendidikan yang utama.

c.     Banyak mendapat kecaman dari pihak pemerintah kolonial Belanda.

KH. Ahmad Dahlan, beliau menuntut ilmu hingga ke negeri Timur Tengh dan Mesir. Berbekal dari ilmu pengetahuan yang didapatnya maka KH. Ahmad Dahlan bermaksud untuk membangun sekolah yang bernuansa agama islam yang didalamnya tidak hanya belajar baca Al-Qur’an tetapi terdapat juga ilmu-ilmu alam.

 Terdapat dua sistem pendidikan yang berkembang saat itu, pertama adalah sistem pendidikan tradisional pribumi yang diselenggarakan dalam bentuk pondok-pondok pesantren dengan kurikulum seadanya. Kedua adalah pendidikan sekuler yang sepenuhnya dikelola oleh pemerintah kolonial dan pelajaran agama tidak diberikan.

  Atas dasar dua sistem pendidikan diatas KH. Ahmad Dahlan kemudian mencoba menggabungkan dua aspek yaitu, aspek yang berkenaan secara idiologis dan praktis. Aspek idiologisnya yaitu mengacu kepada tujuan pendidikan Muhammadiyah, yaitu untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, pengetahuan yang komprehensif, baik umum maupun agama, dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk membangun masyarakat. Sedangkan aspek praktisnya adalah mengacu kepada metode belajar, organisasi sekolah, mata pelajaran, dan kurikulum yang disesuaikan dengan teori modern

F.     Kesimpulan

. K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. didesa Gedang Jombang. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, yang berasal dari Demak. Ibunya bernama Halimah, putri Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang yang terkenal mampu menarik santri-santri dari seluruh Jawa pada akhir abad ke-19. Sedang kakeknya, Kyai Sihab adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Pembaharuan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam bidang pendidikan berupa wujud Pondok Pesantren Tebuireng yang berdiri pada tanggal 26 Rabi’ul Awal 120 H. Bertepatan 6 Februari 1906 M. Sedangkan dalam bidang sosial berdiri organisasi Nahdhatul Ulama pada tahun 1926 M.

KH. Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 19 November 1870 M, secara biologis beliau bukan keturunan Kraton (bangsawan) yang ningrat dengan status kasta dan memiliki hierarki sosial politik yang berbeda. KH. Ahmad Dahlan pada waktu kecilnya bernama Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti Aminah. Ayahnya adalah Khatib di Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Sementara ibunya adalah putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.

Pembaharuan pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam bidang sosial yaitu dengan didirikannya sebuah organisasi yang dinamakan Muhammadiyah, yang mana Muhammadiyah merupakan terobosan nyata dari ide pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam meluaskan syi’ar agama Islam. Sedangkan dalam bidang pendidikan beliau membuat pembaharuan dengan mencoba menggabungkan dua sistem pendidikan kala itu yaitu sistem pendidikan tradisional dan sistem pendidikan sekuler.


DAFTAR PUSTAKA

Khuluq, Latifatul. Fajar ulama. K.H Hasyim Asy’ari, Yogyakarta: Lkis, 2000.

Ensiklopedia Islam, Departemen Agama, Jakarta 1993.

Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. Ensiklopedia Islam, Jakarta: 1997.

Nizar, Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Press.

Nashir, Header. Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Akarhanaf, Kyai Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, Jombang: Pondok Pesantren Tebuireng, 1950.


BACA JUGA

0 comments:

Posting Komentar