A.
Pendahuluan
Ketokohan KH. Hasyim Asy’ari sering
kali diceburkan dalm persoalan sosial politik. Hal ini dapt dipahami bahwa
sebagian dari sejarah kehidupan KH. Hasyim Asy’ari juga dihabiskan untuk
merebut kedaulatan bangsa Indonesia melawan hegemoni kolonial Belanda dan
Jepang. Lebih-lebih organisasi yang didirrikannya, Nahdatul Ulama (NU), pada
masa itu cukup aktif melakukan usaha-usaha sosial politik.
KH. Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh yang
tidak banyak meninggalkan tulisan. Beliau lebih menampilkan sosoknya sebagai
manusia amal dan praktisi dari pada filosof yang banyak melahirkan
gagasan-gagasan tetapi sedikit amal, sekalipun demikian tidak berarti beliau
tidak memiliki pemikiran atau gagasan. Selain itu, Amal Usaha Muhammadiyah
merupakan refleksi dan manifestasi pemikiran beliau dalam bidang pendidikan dan
keagamaan. Istilah pendidikan disini dipergunakan dalam konteks yang luas tdiak
hanya terbatas pada sekolah formal tetapi mencakup semua usaha yang
dilaksanakan secara sistematis untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, nilai
dan keterampilan dari generasi muda, dalam konteks ini termasuk dlam pengertian
penddikan adalah kegiatan pengajian, tabligh da sejenisnya.
B.
Biografi KH.
Hasyim Asy’ari
K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada hari
Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871
M. didesa Gedang Jombang. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, yang berasal dari
Demak. Ibunya bernama Halimah, putri Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang yang
terkenal mampu menarik santri-santri dari seluruh Jawa pada akhir abad ke-19.
Sedang kakeknya, Kyai Sihab adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa
Timur.[1]
Sebagaimana santri pada umumnya, KH.
Hasyim Asy’ari senang belajar di pesantren sejak kecil. Dari ayahnya ia
mendapat pelajaran dasar-dasar tauhid, fikih, tafsir dan hadist. Setelah
berusia lima belas tahun, KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya ke berbagai
pesantren di Jawa dan Madura, salah satunya pesantren Siwalan Surabaya.[2] Di
pesantren Siwalan ia menetap dua tahun. Karena kecerdasannya, ia diambil
menantu oleh Kyai Ya’kub pengasuh pesantren tersebut. setelah menikah ia dan
istrinya menunaikan ibadah haji dan menetap disana selama tujuh bulan. KH.
Hasyim Asy’ari harus kembali ke tanah air seorang diri karena istrinya
meninggal setelah melahirkan anaknya yang bernama Abdullah.[3]
Pada tahun 1893 M, KH. Hasyim
Asy’ari kembali ke Makkah dengan saudaranya, Anis, yang kemudian meninggal
disana, pada kesempatan ini ia menetap di Makkah selama tujuh tahun dan mempelajari
berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu fiqh Syafi’iyah dan ilmu
Hadits, terutama literatur Shahih Bukhari dan Muslim.
Pada tahun 1926 M, KH. Hasyim
Asy’ari mendirikan partai Nahdatul Ulama (NU). Sejak didirikan sampai tahun
1947 M Rais ‘Am (ketua umum) dijabat oleh KH. Hasyim Asy’ari. Ia pernah
menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama pada zaman pendudukan Jepang untuk wilayah
Jawa dan Madura. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947 di Tebuireng, Jombag
Jawa Timur. Hampir seluruh waktunya diabadikan untuk kepentingan agama dan
pendidikan.[4]
C.
Pembaharuan
Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
1.
Pemikiran KH.
Hasyim Asy’ari tentang pendidikan
Tepat pada tanggal 26 Rabi’ul Awal
120 H. Bertepatan 6 Februari 1906 M, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok
Pesantren Tebuireng. Oleh karena kegigihannya dan keihklasannya dlam
menyosialisasikan ilmu pengetahuan, dalam beberpa tahun kemudian pesantren
relatif ramai dan terkenal.
Pada tahun 1916-1934 Hasyim Asy’ari
membuka sistem pengajaran berjenjang. Terdapat tujuh jenjang kelas dan dibagi
menjadi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua diajarkan bahasa arab
sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuna islam. Kurikulum
madrasah pu mulain ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia,
matematika dan ilmu bumi, dan pada tahun 1926 ditambah lagi dengan mata
pelajaran bahasa Belanda dan sejarah.
Salah satu kary monumental KH.
Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah kitab adab al-‘alim wa
al-muta’allum wa ma yataqaff al-mu’allimin fi maqamat ta’limih, sebagaimana
umumnya kitab kuning, pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih ditekankan
pada masalah pendidikan etika.
2.
Pemikiran KH.
Hasyim Asy’ari Tentang Sosial
Aktivitas
K. H. Hasyim Asy’ari di bidang sosial lainnya adalah mendirikan organisasi
Nahdatul Ulama, bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, seperti Syekh ‘Abd
Al-Wahhab dan Syekh Bishri Syansuri. Mengenai orientasi pemahaman dan pemikiran
keislaman, kiai Hasyim sangat dipengaruhi oleh salah seorang guru utamanya:
Syekh Mahfuz At-Tarmisi yang banyak menganut tradisi Syekh Nawawi. Selama
belajar di Mekkah, sebenarnya, ia pun mengenal ide-ide pembaharuan Muhammad
Abduh. Tetapi ia cenderung tidak menyetujui pikiran-pikiran Abduh, terutama
dalam hal kebebasan berpikir dan pengabaian Mazhab. Menurutnya kembali langsung
ke Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa melalui hasil-hasil Ijtihad para imam mazhab
adalah tidak mungkin. Menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits secara langsung, tanpa
mempelajari kitab-kitab para ulama besar dan imam mazhab, hanya akan
menghasilkan pemahaman yang keliru tentang ajaran Islam. Latar belakang
orientasi pemahaman keislaman seperti inilah yang membuat kiai Hasyim menjadi
salah seorang pendiri dan pemimpin utama Nadhatul Ulama. Tidak kurang dari 21
tahun ia menjadi Rais ‘Am, ketua umum
Nadhatul Ulama (1926-1947).
KH Hasyim
Asy’ari menganjurkan kepada para kiai dan guru-guru agama agar memiliki
perhatian serius kepada masalah ekonomi untuk kemaslahatan; “kenapa tidak kalian
dirikan saja satu badan usaha, yang setiap wilayah ada satu badan usaha yang
mandiri.” Demikian pernyataan KH Hasyim Asy’ari ketika mendeklarasikan
berdirinya Nahdlah at-Tujjar. Berangkat dari kesadaran itulah Nahdlah at-Tujjar
didirikan, dengan satu badan usaha yang ketika itu disebut Syirkah al-Inan,
yang kemudian hari ketika NU berdiri wadah ekonomi tersebut berganti nama dengan Syirkah al-Mu’awanah.
Ketika
organisasi sosial keagamaan masyumi dijadikan partai politik pada 1945, Kiai
Hasyim terpilih sebagai ketua umum. Setahun kemudian, 7 September 1947 (1367
H), K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari, yang bergelar Hadrat Asy-Syaikh wafat.
Berdasarkan keputusan Presiden No. 29/1964, ia diakui sebagai seorang pahlawan
kemerdekaan nasional, suatu bukti bahwa ia bukan saja tokoh utama agama, tetapi
juga sebagai tokoh nasional.
Pada tahun
1930 dalam muktamar NU ke-3 kiai Hasyim selaku Rais Akbar menyampaikan
pokok-pokok pikiran mengenai organisasi NU. Pokok-pokok pikiran inilah yang
kemudian dikenal sebagai Qanun Asasi Jamiah NU (undang-undang dasar jamiah NU).[5]
D.
Biografi KH.
Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan secara biologis
bukan keturunan Kraton (bangsawan) yang ningrat dengan status kasta dan
memiliki hierarki sosial politik yang berbeda. KH. Ahmad Dahlan pada waktu kecilnya
bernama Muhammad Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan
Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti Aminah. Ayahnya adalah Khatib di Masjid Agung
Kesultanan Yogyakarta. Sementara ibunya adalah putri KH. Ibrahim yang pernah
menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.[6]
Mengenai tahun kelahiran Ahmad
Dahlan secara pasti banyak perbedaan pendapat, Junus Salam dalam bukunya Riwayat
Hidup KH. Ahmad Dahlan : Amal dan Perjuangannya, hanya menyebut tahun 1868
M atau 1285 H. Sedangkan menurut Drs. Oman Fathurrahman ahli falak dari Majelis
Tarjih dan Tajdid Pemimpin Pusat Muhammadiyah, menyatakan bahwa Ahmad Dahlan
lahir pada hari sabtu 24 Sya’ban tahun 1827 H bertepatan dengan tanggal 19
November 1870 M, dan wafat pada tanggal 23 Februari tahun 1923, dalam usia 55
tahun atau 54 tahun.[7]
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal
di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi
dengan pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam Islam, seperti Muhammad Abduh,
Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Melalui kitab-kitab yang dikarang
oleh reformer Islam, telah membuka wawasan Ahmad Dahlan tentang Universitas
Islam. Ide-ide tentang reinterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada
Al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khusus KH. Ahmad Dahlan saat itu. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun
1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak
kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun, pada masa ini ia sempat berguru
kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU KH.Hasyim Asy’ari.
Kemudian pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman,
Yogyakarta.
E.
Pembaharuan
pemikiran KH. Ahmad Dahlan
1.
Pemikiran KH.
Ahmad Dahlan dalam Bidang Sosial
Sebagai seorang organisator atau
seorang yang senang akan berorganisasi, KH. Ahmad Dahlan bercita-cita
mendirikan sebuah perkumpulan yang didalamnya juga dapat menyiarkan dakwah
kepada umat muslim. Yang kemudian dengan bantuan para pemuda, murid-murid dan
para sahabatnya beliau mendirikan sebuah perkumpulan atau persyarikatan yang
bernama Muhammadiyah.
Adapun beberapa faktor yang menjadi
pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah :
a.
Umat Islam
tidak memegang teguh tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan
merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat islam tidak
merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam
tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi.
b.
Umat Islam pada
saat itu dilanda oleh arus formalism. Dimana umat islam hanya menjalankan
ajaran tanpa menghayati da mengamalkan makna yang terkandung didalam ayat suci
Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup.
Muhammadiyah merupakan terobosan
nyata dari ide pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam meluaskan syi’ar agama Islam.
Kemunculannya disambut hangat oleh masyarakat. Ini membuktikan bahwa cara kerja
dari tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya itu sungguh luar biasa.
Periode tahun 1912-1923, merupakan
peletakan dasar gerakan Muhammadiyah. Dalam periode ini, kepemimpinan
Muhammadiyah langsung berada pada KH. Ahmad Dahlan. Perkembangan organisasi
dalam Muhammadiyah terjadi bersamaan dengan perkembangan amal usaha
Muhammadiyah. Amal usaha yang pertama adalah sekolahn dan pengajian, kemudian
meluas meliputi bidang kesehatan dan kesejahteraan ekonomi.
2.
Pemikiran KH.
Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan
Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam
bidang pendidikan dilatar belakangi oleh beberapa faktor, diantaranya :
a.
Pendidikan bagi
kaum pribumi sungguh dipandang sebelah mata oleh pemerintah kolonial Belanda.
b.
Abainya
perhatian negara kolonial terhadap pendidikan kaum pribumi hingga paruh pertama
abad ke 19. Meski demikian sekolah-sekolah islam tradisional mampu berperan
sebagai institusi-institusi pendidikan yang utama.
c.
Banyak mendapat
kecaman dari pihak pemerintah kolonial Belanda.
KH. Ahmad Dahlan, beliau menuntut
ilmu hingga ke negeri Timur Tengh dan Mesir. Berbekal dari ilmu pengetahuan
yang didapatnya maka KH. Ahmad Dahlan bermaksud untuk membangun sekolah yang
bernuansa agama islam yang didalamnya tidak hanya belajar baca Al-Qur’an tetapi
terdapat juga ilmu-ilmu alam.
Terdapat dua sistem pendidikan yang berkembang
saat itu, pertama adalah sistem pendidikan tradisional pribumi yang diselenggarakan
dalam bentuk pondok-pondok pesantren dengan kurikulum seadanya. Kedua adalah
pendidikan sekuler yang sepenuhnya dikelola oleh pemerintah kolonial dan
pelajaran agama tidak diberikan.
Atas
dasar dua sistem pendidikan diatas KH. Ahmad Dahlan kemudian mencoba
menggabungkan dua aspek yaitu, aspek yang berkenaan secara idiologis dan
praktis. Aspek idiologisnya yaitu mengacu kepada tujuan pendidikan
Muhammadiyah, yaitu untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, pengetahuan
yang komprehensif, baik umum maupun agama, dan memiliki kesadaran yang tinggi
untuk membangun masyarakat. Sedangkan aspek praktisnya adalah mengacu kepada
metode belajar, organisasi sekolah, mata pelajaran, dan kurikulum yang disesuaikan
dengan teori modern
F.
Kesimpulan
. K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada
hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan dengan tanggal 14 Februari
1871 M. didesa Gedang Jombang. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, yang berasal dari
Demak. Ibunya bernama Halimah, putri Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang yang
terkenal mampu menarik santri-santri dari seluruh Jawa pada akhir abad ke-19.
Sedang kakeknya, Kyai Sihab adalah pendiri Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa
Timur.
Pembaharuan pemikiran KH. Hasyim
Asy’ari dalam bidang pendidikan berupa wujud Pondok Pesantren Tebuireng yang
berdiri pada tanggal 26 Rabi’ul Awal 120 H. Bertepatan 6 Februari 1906 M.
Sedangkan dalam bidang sosial berdiri organisasi Nahdhatul Ulama pada tahun
1926 M.
KH. Ahmad Dahlan lahir pada tanggal
19 November 1870 M, secara biologis beliau bukan keturunan Kraton (bangsawan)
yang ningrat dengan status kasta dan memiliki hierarki sosial politik yang
berbeda. KH. Ahmad Dahlan pada waktu kecilnya bernama Muhammad Darwis. Beliau
dilahirkan di Kauman Yogyakarta dari pernikahan Kyai Haji Abu Bakar dengan Siti
Aminah. Ayahnya adalah Khatib di Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Sementara
ibunya adalah putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton
Yogyakarta.
Pembaharuan pemikiran KH. Ahmad
Dahlan dalam bidang sosial yaitu dengan didirikannya sebuah organisasi yang
dinamakan Muhammadiyah, yang mana Muhammadiyah merupakan terobosan nyata dari
ide pemikiran KH. Ahmad Dahlan dalam meluaskan syi’ar agama Islam. Sedangkan
dalam bidang pendidikan beliau membuat pembaharuan dengan mencoba menggabungkan
dua sistem pendidikan kala itu yaitu sistem pendidikan tradisional dan sistem
pendidikan sekuler.
DAFTAR PUSTAKA
Khuluq, Latifatul. Fajar ulama. K.H Hasyim Asy’ari, Yogyakarta:
Lkis, 2000.
Ensiklopedia
Islam, Departemen Agama, Jakarta 1993.
Dewan Redaksi
Ensiklopedia Islam. Ensiklopedia Islam, Jakarta: 1997.
Nizar, Syamsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat
Press.
Nashir, Header. Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan,
Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Akarhanaf, Kyai Hasyim Asy’ari Bapak Umat Islam Indonesia, Jombang:
Pondok Pesantren Tebuireng, 1950.








0 comments:
Posting Komentar