Sabtu, 31 Desember 2022

MAKALAH FIQH JINAYAH Asas Asas Dalam Hukum Pidana Isam


Apa saja asas asas jinayah?
Apa asas legalitas dalam penerapan hukum pidana Islam berikan dalilnya?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan asas kepastian hukum dalam asas hukum Islam?

A.    Definisi Asas-Asas Hukum Islam

Kata asas berasal dari lafal bahasa Arab , asaasun yang mengandung arti dasar , basis dan pondasi. Jika diartikan maka asas adalah landasan berpikir yang sangat mendasar.[1] Kata asas yang dihubungkan dengan hukum memiliki arti berupa suatu kebenaran yang digunakan sebagai tumpuan berfikir dan alasan pendapat terutama dalam penegakan dan pelaksanaan hukum. Asas hukum adalah suatu aturan dasar dan prinsip hukum yang abstark dan pada umumnya melatar belakangi peraturan kongkret dan pelaksanaan hukum. Peraturan konkret (seperti undang-undang) tidak boleh bertentangan dengan asas hukum, demikian pula dengan putusan hakim. Karena pada dasarnya asas hukum berfungsi sebagai rujukan dan pijakan untuk mengembalikan segala masalah yang berkaitan dengan hukum.

Hukum Islam mampu menarik hati manusia untuk meyakini atau mengamalkanya dan senantiasa sesuai untuk segenap keadaan, disebabkan ia berdiri diatas asas yang kuat, prinsip yang jelas, dan selaras dengan fitrah manusia. Penelusuran yang akurat dan mendalam terhadap syariat Islam oleh para juris muslim telah menghasilkan simpulan mengenai asas-asas yang menjadi landasan berdirinya tasyri’ Islam.[2]

B.    Asas Asas Umum Hukum Islam

1.   Asas keadilan

Tuntunan mengenai seorang muslim harus belaku adil sangatlah banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Berlaku adil adalah sebuah upaya seseorang dalam menempatkan atau meletakkan sesuatu pada tempatnya (wadl’u as-syai-i-fi mahalidin). Hukum Islam menempatkan asas keadilan sebagai asas umum yang harus diterapkan dalam sebuah bidang atau praktek keagamaan. Demikian pentingnya penyebutan asas keadilan dalam Al-Qur’an hingga lebih dari seribu kali. Berlaku adil diperuntuhkan kepada seluruh manusia termasuk didalamnya penguasa, khalifah Allah SWT, orang tua,  maupun masyarakat biasa.[3] Berlaku adil salah satunya diterapkan dalam surat an Nisa’ 135 :

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡا قَوّٰمِیۡنَ بِالۡقِسۡطِ شُہَدَآءَ لِلّٰہِ وَ لَوۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ اَوِ الۡوَالِدَیۡنِ وَ الۡاَقۡرَبِیۡنَ ۚ اِنۡ یَّکُنۡ غَنِیًّا اَوۡ فَقِیۡرًا فَاللّٰہُ اَوۡلٰی بِہِمَا ۟ فَلَا تَتَّبِعُوا الۡہَوٰۤی اَنۡ تَعۡدِلُوۡا ۚ وَ اِنۡ تَلۡوٗۤا اَوۡ تُعۡرِضُوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرًا

Artinya :

wahai orang-orang yang beriman ,jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan ,menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin , maka Allah lebih tau kemaslahatanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar bahkkan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi ,maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”(QS,An Nisa/4:135)

2.   Asas Kepastian Hukum

Asas ini menjadi penentu bahwa hukum tidak boleh berlaku surut. Sehingga Allah dalam hal ini menegaskan Allah memaafkan apa pun yang dilakukan di masa lampau sebelum adanya aturan yang disampaikan oleh Rosullah Muhamad SAW. Allah memaafkan apa yang telah lalu ,Q.S Al Maidah :95.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقۡتُلُوا الصَّيۡدَ وَاَنۡـتُمۡ حُرُمٌ​ ؕ وَمَنۡ قَتَلَهٗ مِنۡكُمۡ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحۡكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ هَدۡيًاۢ بٰلِغَ الۡـكَعۡبَةِ اَوۡ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيۡنَ اَوۡ عَدۡلُ ذٰ لِكَ صِيَامًا لِّيَذُوۡقَ وَبَالَ اَمۡرِهٖ​ ؕ عَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ​ ؕ وَمَنۡ عَادَ فَيَنۡتَقِمُ اللّٰهُ مِنۡهُ​ ؕ وَاللّٰهُ عَزِيۡزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Artinya :

wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, Menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai haddnya yang dibawa sampai Kakbah, atau dendanya membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, Supaya merasakan akibat yang buruk dari perbuatanya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali mengerjakanya niscaya Allah akan menyiksanya. Allah maha kuasa lagi mempunyai kekuasaan untuk menyiksa.

3.   Asas Kemanfaatan

Asas ini adalah asas yang mengiringi pelaksanaan asas kepastian hukum. Dalam menegakkan hukum, selain mempertimbangkan dimensi keadilan dan penjaminan kepastian, maka juga perlu diperhatikan dimensi kemanfaatan di dalam penerapan hukum tersebut, baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat banyak.

4.   Asas Tauhid (mengesakkan tuhan)

Prinsip mengesakkan tuhan memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap cara seseorang memahami tuhan dan firman-Nya. Karena keesaan Allah yang melambangkan kedaulatan tuhan, maka tidak ada pihak manapun yang dapat menyamai kedaulatan-Nya.firman Allah:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya:”dan tiada sesuatu pun yang sebanding dengan dia” (Q.S.al-ikhlas:4)

5.     Asas Kebebasan

Islam mengenal Asas Kemerdekaan (al-hurriyyah) bagi pemeluknya. Islam memberikan kebebasan kepada setiap umatnya sejauh tidak bertentangan dengan syariat atau melanggar kebebasan orang lain. Kebebasan tersebut meliputi kebebasan beragama, kebebasan bertindak atau berbuat sesuatu, kebebasan berfikir, dan kebebasan individu dalam batas-batas norma yang dibenarkan hukum. Bahkan Allah secara tegas dalam firman-Nya menjelaskan bahwa tidak ada paksaan bagi setiap orang untuk memasuki agama Islam, semua boleh memilih dengan konsekuesi pilihanya masing-masing. Firman Allah surat al Baqarah:256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya :

“tidak ada paksaan untuk(memasuki) agama (Islam) sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalam yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada tagut dam beriman kepada Allah maka, sesungguhnya, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar maha mengetahui.

6.   Asas Berangsur-Angsur Dalam Menetapkan Hukum

Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan ayat demi ayat. Bahkan menurut peristiwa yang menghendaki turunya ayat tertentu. Hal ini terjadi lantaran kondisi sosial dunia Arab saat itu. Hukum adat yang sudah mengakar kuat seringkali bertentangan dengan syariat Islam.

C.    Asas Asas Khusus Hukum Islam

a.   Asas Legalitas

Salah satu unsur hukum pidana Islam adalah unsur formal, yaitu adanya peraturan yang mengatur tindakan yang mengatur perbuatan yang dinyatakan sebagai perbuatan jarimah atau adanya ketentuan syara’ atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dinyatakan oleh hukum sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukum terhadap perbuatan yang dimaksud. Ketentuan tersebut harus sudah ada sebelum perbuatan dilakukan. Apabila aturan tersebut datang setelah perbuatan dilakukan, ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan karna hukum berlaku pasang atau hukum tidak berlaku surut.[4]

Surat al-Isra’ :15

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Artinya:” barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah),maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (kemaslahatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bago (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain , dan kami akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rosul”

Ayat ini menjadi landasan hukum asas legalitas sebagai asas hukum pidana. Yang dimaksud dengan asas legalitas yaitu asas yang menyatakan bahwa tidak ada pelangaran maupun hukuman sebelum terdapat peraturan yang mengatur sebelumnya.[5]

b.   Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain

Asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain banyak disebutkan dalam beberapa ayat al Quran diantaranya didalam surat muddatsir:38 dinyatakan bahwa setiap diri bertanggung jawab atas perbuatanya sendiri. Hal ini memiliki arti bahwa masing-masing jiwa harus bertanggung jawab atas dirinya dan tidak dapat dibebani oleh beban orang lain.

Surat al-an’am : 164

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Arrtinya :”  katakanlah: apakah aku mencari tuhan selain allah , padahal dia adalah tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratanya kembali kepada dirinya sendiri ; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kamu kembali ,dan akan diberitahukan kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”

Asas ini pertanggungjawaban pidana bersifat individu, sehinggga tidak bisa kesalahan seseorang dipindahkan kepada orang lain, atau bahkan dimintai untuk mengganti. Siapa pun yang berani berbuat, maka ia sendirilah yang harus berani bertanggung jawab.

c.   Asas Praduga Tak Bersalah

Seseorang yang dituduh melakukan kejahatan, harus dianggap tidak bersalah sampai hakim dengan bukti-bukti meyakinkan menyatakan dengan tegas kesalahan orang tersebut. Asas ini juga didasarkan pada Al-Qur’an yang menjadi landasan dari asas legalitas dan asas larangan memindahkan kesalahan kepada orang lain.

d.     Asas Persamaan dihadapan Hukum

Mengandung arti bahwa tidak ada perbedaan antara tuan dan budak, antara kaya dan miskin, antara rakyat dan pemimpin, dan antara pria dan wanita dalam pandangan Hukum Pidana Islam. Prinsip /asas persamaan tidak hanya terdapat dalam ranah teori dan filosifi Hukum Islam, melainkan dilaksanakan secara praktis dilaksanakan oleh Rosullulah dan para sahabat, para khalifah, dan penerus beliau. Syariat memberikan tekanan yang besar pada prinsip equality befor the law ini, rosullulah bersabda:”wahai manusia ! kalian menyebah tuhan yang sama, kalian mempunyai bapak yang sama. Bangsa arab tidak lebih mulia dari pada hitam,kecuali dalam ketakwaan”.[6]

e.     Asas Tidak Sah Hukuman Karena Keraguan

Memiliki makna bahwa batal hukumanya jika terdapat hukuman yang dijatuhkan terdasar pada adanya keraguan didalemnya. Nash Al-hadis mengatur : “hindarkanlah hudud dalam keadaan ragu, lebih baik salah dalam membebaskan dari pada salah dalam menghukum. Menurutnya ketentuan ini, putusan menjatuhkan hukuman haruslah dilakukan dengan penuh keyakinan, tanpa adanya keraguan.[7]

f.      Asas Tidak Berlaku Surut

Asas ini melarang berlakunya Hukum Pidana kebelakang kepada perbuatan yang belum ada aturanya. Hukum Pidana harus berjalan kedepan. Pelanggaran terhadap asas ini mengakibatkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Contoh dari pelaksanaan asas ini adalah pelanggaran praktik yang berlaku di antara bangsa Arab pra-Islam.

 

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Asas berasal dari lafal arab asasun yang mengandung arti dasar, basis, dan pondasi. Dan jika diartikan bahwa asas adalah landasan berfikir yang sangat mendalam apabila dikaitkan dengan hukum memiliki arti bahwa suatu kebenaran yang digunakan sebagai tumpuan berfikir dan alasan pendapat terutama dalam penegakan dan pelaksanaan hukum.

Didalam suatu hukum terdapat suatu asas yang dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu asas secara umum dan asas yang bersifat khusus. Dalam fiqh jinayah asas umum tersebut berupa asas-asas tersebut meliputi :asas keadilan, asas kepastian hukum, asas kemanfaatan, asas tauhid,asas berangsur-angsur dalam nenetapkan hukum dan juga asas kebebasan. Sedangkan dalam asas yang bersifat khusus berisikan tentang : asas legalitas, asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain, asas praduga tak bersalah, asas tidak sah hukuman karena keraguan dan asas persamaan dihadapan hukum.

B.    SARAN

Demikian penjelasan mengenai “asas-asas dalam hukum pidana islam” pada mata kuliah Fiqh Jinayah. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami sebagai penulis mohon maaf jika terdapat kesalahan baik berupa penulisan maupun materi yang disampaikan karena keterbatasan pengetahuan. Kiranya kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi perbaikan makalah di kedepan hari.

DAFTAR PUSTAKA

Rohidin.2016.Pengantar Hukum Islam.Yogyakarta:Lintang Sari Aksara Books.

Hasan,Mustofa dan Saebani,bani ahmad.2013.Hukum Pidana Islam,Bandung:Pustaka Setia.

Sularno,M.Membumikan Hukum Pidana Islam Di Indonesia ,Al Mawarid, NO.1 Vol .XII, Yogyakarta:Feb-Agust 2012.

 

BACA JUGA

0 comments:

Posting Komentar