Apa saja asas asas jinayah?
Apa asas legalitas dalam penerapan hukum pidana Islam berikan dalilnya?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan asas kepastian hukum dalam asas hukum Islam?
A. Definisi
Asas-Asas Hukum Islam
Kata asas berasal dari lafal bahasa Arab , asaasun
yang mengandung arti dasar , basis dan pondasi. Jika diartikan maka asas adalah
landasan berpikir yang sangat mendasar.[1]
Kata asas yang dihubungkan dengan hukum memiliki arti berupa suatu kebenaran
yang digunakan sebagai tumpuan berfikir dan alasan pendapat terutama dalam
penegakan dan pelaksanaan hukum. Asas hukum adalah suatu aturan dasar dan
prinsip hukum yang abstark dan pada umumnya melatar belakangi peraturan
kongkret dan pelaksanaan hukum. Peraturan konkret (seperti undang-undang) tidak
boleh bertentangan dengan asas hukum, demikian pula dengan putusan hakim.
Karena pada dasarnya asas hukum berfungsi sebagai rujukan dan pijakan untuk
mengembalikan segala masalah yang berkaitan dengan hukum.
Hukum Islam mampu menarik hati manusia untuk meyakini atau mengamalkanya dan senantiasa sesuai untuk segenap keadaan, disebabkan ia berdiri diatas asas yang kuat, prinsip yang jelas, dan selaras dengan fitrah manusia. Penelusuran yang akurat dan mendalam terhadap syariat Islam oleh para juris muslim telah menghasilkan simpulan mengenai asas-asas yang menjadi landasan berdirinya tasyri’ Islam.[2]
B. Asas
Asas Umum Hukum Islam
1. Asas
keadilan
Tuntunan mengenai seorang muslim harus belaku adil sangatlah banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Berlaku adil adalah sebuah upaya seseorang dalam menempatkan atau meletakkan sesuatu pada tempatnya (wadl’u as-syai-i-fi mahalidin). Hukum Islam menempatkan asas keadilan sebagai asas umum yang harus diterapkan dalam sebuah bidang atau praktek keagamaan. Demikian pentingnya penyebutan asas keadilan dalam Al-Qur’an hingga lebih dari seribu kali. Berlaku adil diperuntuhkan kepada seluruh manusia termasuk didalamnya penguasa, khalifah Allah SWT, orang tua, maupun masyarakat biasa.[3] Berlaku adil salah satunya diterapkan dalam surat an Nisa’ 135 :
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡا
قَوّٰمِیۡنَ بِالۡقِسۡطِ شُہَدَآءَ لِلّٰہِ وَ لَوۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِکُمۡ اَوِ
الۡوَالِدَیۡنِ وَ الۡاَقۡرَبِیۡنَ ۚ اِنۡ یَّکُنۡ غَنِیًّا اَوۡ فَقِیۡرًا
فَاللّٰہُ اَوۡلٰی بِہِمَا ۟ فَلَا تَتَّبِعُوا الۡہَوٰۤی اَنۡ تَعۡدِلُوۡا ۚ وَ
اِنۡ تَلۡوٗۤا اَوۡ تُعۡرِضُوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ
خَبِیۡرًا
Artinya
:
“wahai orang-orang yang beriman ,jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan ,menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin , maka Allah lebih tau kemaslahatanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar bahkkan(kata-kata) atau enggan menjadi saksi ,maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”(QS,An Nisa/4:135)
2. Asas
Kepastian Hukum
Asas ini menjadi penentu bahwa hukum tidak boleh berlaku surut. Sehingga Allah dalam hal ini menegaskan Allah memaafkan apa pun yang dilakukan di masa lampau sebelum adanya aturan yang disampaikan oleh Rosullah Muhamad SAW. Allah memaafkan apa yang telah lalu ,Q.S Al Maidah :95.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقۡتُلُوا الصَّيۡدَ وَاَنۡـتُمۡ حُرُمٌ ؕ وَمَنۡ قَتَلَهٗ مِنۡكُمۡ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءٌ مِّثۡلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحۡكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدۡلٍ مِّنۡكُمۡ هَدۡيًاۢ بٰلِغَ الۡـكَعۡبَةِ اَوۡ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسٰكِيۡنَ اَوۡ عَدۡلُ ذٰ لِكَ صِيَامًا لِّيَذُوۡقَ وَبَالَ اَمۡرِهٖ ؕ عَفَا اللّٰهُ عَمَّا سَلَفَ ؕ وَمَنۡ عَادَ فَيَنۡتَقِمُ اللّٰهُ مِنۡهُ ؕ وَاللّٰهُ عَزِيۡزٌ ذُو انْتِقَامٍ
Artinya :
“wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, Menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu sebagai haddnya yang dibawa sampai Kakbah, atau dendanya membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, Supaya merasakan akibat yang buruk dari perbuatanya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa kembali mengerjakanya niscaya Allah akan menyiksanya. Allah maha kuasa lagi mempunyai kekuasaan untuk menyiksa.
3. Asas
Kemanfaatan
Asas
ini adalah asas yang mengiringi pelaksanaan asas kepastian hukum. Dalam
menegakkan hukum, selain mempertimbangkan dimensi keadilan dan penjaminan
kepastian, maka juga perlu diperhatikan dimensi kemanfaatan di dalam penerapan
hukum tersebut, baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat banyak.
4. Asas
Tauhid (mengesakkan tuhan)
Prinsip
mengesakkan tuhan memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap cara seseorang
memahami tuhan dan firman-Nya. Karena keesaan Allah yang melambangkan
kedaulatan tuhan, maka tidak ada pihak manapun yang dapat menyamai
kedaulatan-Nya.firman Allah:
وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya:”dan tiada sesuatu pun yang sebanding dengan dia” (Q.S.al-ikhlas:4)
5. Asas
Kebebasan
Islam mengenal Asas Kemerdekaan (al-hurriyyah) bagi pemeluknya. Islam memberikan kebebasan kepada setiap umatnya sejauh tidak bertentangan dengan syariat atau melanggar kebebasan orang lain. Kebebasan tersebut meliputi kebebasan beragama, kebebasan bertindak atau berbuat sesuatu, kebebasan berfikir, dan kebebasan individu dalam batas-batas norma yang dibenarkan hukum. Bahkan Allah secara tegas dalam firman-Nya menjelaskan bahwa tidak ada paksaan bagi setiap orang untuk memasuki agama Islam, semua boleh memilih dengan konsekuesi pilihanya masing-masing. Firman Allah surat al Baqarah:256:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya
:
“tidak ada paksaan untuk(memasuki) agama (Islam) sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalam yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada tagut dam beriman kepada Allah maka, sesungguhnya, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah maha mendengar maha mengetahui.
6. Asas
Berangsur-Angsur Dalam Menetapkan Hukum
Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan ayat demi ayat. Bahkan menurut peristiwa yang menghendaki turunya ayat tertentu. Hal ini terjadi lantaran kondisi sosial dunia Arab saat itu. Hukum adat yang sudah mengakar kuat seringkali bertentangan dengan syariat Islam.
C. Asas
Asas Khusus Hukum Islam
a. Asas
Legalitas
Salah
satu unsur hukum pidana Islam adalah unsur formal, yaitu adanya peraturan yang
mengatur tindakan yang mengatur perbuatan yang dinyatakan sebagai perbuatan
jarimah atau adanya ketentuan syara’ atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan
yang dinyatakan oleh hukum sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash
(ayat) yang mengancam hukum terhadap perbuatan yang dimaksud. Ketentuan
tersebut harus sudah ada sebelum perbuatan dilakukan. Apabila aturan tersebut
datang setelah perbuatan dilakukan, ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan
karna hukum berlaku pasang atau hukum tidak berlaku surut.[4]
Surat al-Isra’ :15
مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
Artinya:” barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah),maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (kemaslahatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bago (kerugian) dirinya sendiri. Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain , dan kami akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rosul”
Ayat
ini menjadi landasan hukum asas legalitas sebagai asas hukum pidana. Yang
dimaksud dengan asas legalitas yaitu asas yang menyatakan bahwa tidak ada
pelangaran maupun hukuman sebelum terdapat peraturan yang mengatur sebelumnya.[5]
b. Asas
Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain
Asas larangan memindahkan kesalahan pada
orang lain banyak disebutkan dalam beberapa ayat al Quran diantaranya didalam
surat muddatsir:38 dinyatakan bahwa setiap diri bertanggung jawab atas
perbuatanya sendiri. Hal ini memiliki arti bahwa masing-masing jiwa harus
bertanggung jawab atas dirinya dan tidak dapat dibebani oleh beban orang lain.
Surat al-an’am : 164
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ۚ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Arrtinya :” katakanlah: apakah aku mencari tuhan selain allah , padahal dia adalah tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratanya kembali kepada dirinya sendiri ; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kamu kembali ,dan akan diberitahukan kepadamu apa yang kamu perselisihkan.”
Asas
ini pertanggungjawaban pidana bersifat individu, sehinggga tidak bisa kesalahan
seseorang dipindahkan kepada orang lain, atau bahkan dimintai untuk mengganti.
Siapa pun yang berani berbuat, maka ia sendirilah yang harus berani bertanggung
jawab.
c. Asas
Praduga Tak Bersalah
Seseorang
yang dituduh melakukan kejahatan, harus dianggap tidak bersalah sampai hakim
dengan bukti-bukti meyakinkan menyatakan dengan tegas kesalahan orang tersebut.
Asas ini juga didasarkan pada Al-Qur’an yang menjadi landasan dari asas
legalitas dan asas larangan memindahkan kesalahan kepada orang lain.
d. Asas
Persamaan dihadapan Hukum
Mengandung
arti bahwa tidak ada perbedaan antara tuan dan budak, antara kaya dan miskin,
antara rakyat dan pemimpin, dan antara pria dan wanita dalam pandangan Hukum
Pidana Islam. Prinsip /asas persamaan tidak hanya terdapat dalam ranah teori
dan filosifi Hukum Islam, melainkan dilaksanakan secara praktis dilaksanakan
oleh Rosullulah dan para sahabat, para khalifah, dan penerus beliau. Syariat
memberikan tekanan yang besar pada prinsip equality befor the law ini,
rosullulah bersabda:”wahai manusia ! kalian menyebah tuhan yang sama, kalian
mempunyai bapak yang sama. Bangsa arab tidak lebih mulia dari pada
hitam,kecuali dalam ketakwaan”.[6]
e. Asas
Tidak Sah Hukuman Karena Keraguan
Memiliki
makna bahwa batal hukumanya jika terdapat hukuman yang dijatuhkan terdasar pada
adanya keraguan didalemnya. Nash Al-hadis mengatur : “hindarkanlah hudud
dalam keadaan ragu, lebih baik salah dalam membebaskan dari pada salah dalam
menghukum. Menurutnya ketentuan ini, putusan menjatuhkan hukuman haruslah
dilakukan dengan penuh keyakinan, tanpa adanya keraguan.[7]
f. Asas
Tidak Berlaku Surut
Asas ini melarang
berlakunya Hukum Pidana kebelakang kepada perbuatan yang belum ada aturanya.
Hukum Pidana harus berjalan kedepan. Pelanggaran terhadap asas ini mengakibatkan
pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Contoh dari pelaksanaan asas ini adalah
pelanggaran praktik yang berlaku di antara bangsa Arab pra-Islam.
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Asas berasal dari lafal arab asasun yang mengandung
arti dasar, basis, dan pondasi. Dan jika diartikan bahwa asas adalah landasan
berfikir yang sangat mendalam apabila dikaitkan dengan hukum memiliki arti
bahwa suatu kebenaran yang digunakan sebagai tumpuan berfikir dan alasan
pendapat terutama dalam penegakan dan pelaksanaan hukum.
Didalam suatu hukum terdapat suatu asas yang dapat
digolongkan menjadi dua bagian yaitu asas secara umum dan asas yang bersifat
khusus. Dalam fiqh jinayah asas umum tersebut berupa asas-asas tersebut
meliputi :asas keadilan, asas kepastian hukum, asas kemanfaatan, asas
tauhid,asas berangsur-angsur dalam nenetapkan hukum dan juga asas kebebasan.
Sedangkan dalam asas yang bersifat khusus berisikan tentang : asas legalitas,
asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain, asas praduga tak bersalah,
asas tidak sah hukuman karena keraguan dan asas persamaan dihadapan hukum.
B.
SARAN
Demikian penjelasan mengenai “asas-asas dalam hukum pidana islam” pada mata kuliah Fiqh Jinayah. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami sebagai penulis mohon maaf jika terdapat kesalahan baik berupa penulisan maupun materi yang disampaikan karena keterbatasan pengetahuan. Kiranya kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi perbaikan makalah di kedepan hari.
DAFTAR
PUSTAKA
Rohidin.2016.Pengantar
Hukum Islam.Yogyakarta:Lintang Sari Aksara Books.
Hasan,Mustofa dan
Saebani,bani ahmad.2013.Hukum Pidana Islam,Bandung:Pustaka Setia.
Sularno,M.Membumikan
Hukum Pidana Islam Di Indonesia ,Al Mawarid, NO.1 Vol .XII,
Yogyakarta:Feb-Agust 2012.








0 comments:
Posting Komentar